Sejarah

Sebuah postingan di Facebook pada pertengahan tahun 2014 berisi foto-foto anak-anak Sekolah Dasar di Kabupaten Sikka, Flores, yang ke sekolah tanpa alas kaki dan baju seragam lusuh menjadi biang awal munculnya aksi sosial ini. Postingan tersebut ditautkan Valentino Luis (Inisiator SHOES FOR FLORES, travel writer & photographer asal Flores) pada laman Facebook pribadinya, dan dalam waktu singkat menerima banyak reaksi dari pengguna Facebook.

Valentino Luis kemudian dipertemukan dengan Dede Prabowo, pemerhati masalah pendidikan juga penggiat bidang sosial (Yayasan Alam Aksara/ www.alamaksara.org ). Pertemuan yang berlangsung di Bali ini lantas menyatukan niat untuk melakukan sesuatu bagi anak-anak sekolah yang berkekurangan itu.

Kunjungan ke sekolah pun dilakukan  untuk melihat situasi nyata. Dari tatap muka langsung dengan anak-anak juga pihak sekolah, dimulailah rencana penggalangan bantuan. Karena kasus anak-anak di sekolah tersebut adalah ketiadaan sepatu, maka gerakan sosial ini pun lantas dinamai “SHOES FOR FLORES” (Sepatu Untuk Flores).

Niat ini juga berhasil menyatukan sejumlah sukarelawan, anak-anak muda lokal, yang ikhlas membagi waktu dan tenaga untuk ikut turun tangan. Astry Bogar (apoteker), Mikael Jefrison (penyiar radio), dan Joseph Werang (staf hotel) menjadi volunteers perdana yang menemani Dede Prabowo serta Valentino Luis.