Photo & Story: SHOES FOR FLORES, Season 11 – SD Cerdas Anak Bangsa (CAB) Waigete – Sikka Regency

Kaget awalnya mengetahui bahwa ada sebuah kampung yang terisolasi sendirian di atas sebuah tebing. Padahal jika ditilik, jaraknya cuma sekitar 2 km dari jalan raya Maumere- Larantuka, di dekat lokasi piknik Wairterang.

Tanjakan dan turunan menuju kampung Wairbukang

Kondisi sekolah tampak dari barat

Kampung Wodong ini menyepi dan sungguh-sungguh sendiri. Satu-satunya akses kesini adalah jalan berbatu mendaki dengan kemiringan 80 derajat. Kondisi alam yang membuat hubungan warga disini terpisah dengan dunia. Tidak ada listrik. Hiburan warga adalah radio. Tapi alam disini sebetulnya masih terjaga sebab tersedia mata air dengan sungai yang begitu bersih, hutan dengan pohon-pohon besar serta bambu. Kampung ini ternyata berada dalam kawasan konservasi Hutan lindung Egon Ilimedo.

Kami, volunteers Shoes For Flores pertama kali mendatangi kampung ini bulan desember tahun lalu, karena mendengar kabar bahwa di kampung ini ada sebuah sekolah dengan kondisi darurat. Sejak didirikan tahun 2011 lalu, bangunannya sungguh tidak laik, seperti barak pengungsi. Lantai tanah, dinding bambu, atap sebagian dari seng sebagian dari bambu. 

Setelah dikumpulkan, ternyata dari 60-an anak, hanya 8 anak yang punya tas, itupun sudah compang camping.

Berkumpul di bawah rindang pohon asam

Ada 62 anak dari kelas 1 sampai 6 di kampung yang dihuni oleh 44 KK, orang tua murid sebagian besar buta aksara, sehingga anak-anak malah mengajarkan orang tuanya membaca. Guru di sekolah ini ada 8 orang, semuanya berstatus honorer, dan tidak tinggal di kampung ini- setiap hari mendaki pulang pergi dari kampung di bawahnya (Wairbukang). Kabar baiknya, guru-guru ini begitu berdedikasi dengan pekerjaan mereka, malah tahun kemarin anak-anak SD dari kampung ini memperoleh nilai tertinggi dalam ujian akhir gugus Alok Barat (regional).

Volunteers Shoes For Flores kemudian mulai menggalang donasi. Bantuan yang datang berupa barang dan dana. Kali ini ada yang istimewa yakni bantuan dari seorang donator yang mengirimkan sepatu untuk para guru. Biasanya Shoes For Flores hanya memberi sepatu untuk anak-anak. Nah, untuk season 11 ini para guru juga dapat jatah sepatu tipe hiking/sport shoes. Terima Kasih donator kami!

Habis belanja, sepatunya dibongkar…yukkk buka lapak…buka lapak….

Bagian bungkus snack gini, tidak ada yang bisa mengalahkan Kak Imron. Entah kenapa….

Karena factor cuaca yang buruk (musim hujan), rencana awal yang niatnya menginap dan memutarkan film, terpaksa dibatalkan. Kegiatan disepakati hanya dilakukan satu hari saja. Barang-barang yang kita bawa untuk anak-anak, seperti biasa, Sepatu dan kelengkapan sekolah.


Pada Hari-H yakni tanggal 28 Maret 2017, volunteers Shoes For Flores berangkat dari Maumere pada jam 06.30 pagi. Cuaca yang hari-hari sebelumnya dirundung hujan, hari itu secara ajaib cerah benderang. Kami mengamini sebagai restu alam.

Karena kendaraan tidak bisa mengakses hingga ke kampung Wairbukang akibat lokasi di atas tebing itu, kami musti melakukan trekking melewati sawah dan kebun, kemudian melintasi sungai hutan lindung Egon Ilimedo, lalu mendaki (hiking) ke lereng tebing. Senang sekali lantaran penduduk kampung Wairbukang telah menanti kami dan mereka bergotong royong membantu memikul dos-dos barang bawaan kami.

Penduduk Wairbukang membantu memikulkan dos-dos yang kami bawa. Semangat bergotong royong ya,kaks

Break sejenak…Ngos-ngosan juga oeeeehhh…

Cerita berlanjut meski pikulan kian berat ya kak Jefry?

Tiba di kampung, suasana agak sepi karena berita kedatangan kami rupanya tidak dikoordinasikan antara kepala desa, kepala dusun, dan kepala sekolah. Meskipun kami telah melakukan survey, datang langsung, dan sama-sama bersepakat untuk melakukan kegiatan hari itu. Setelah diusut, ternyata ada bentrokan antara warga dengan kepala sekolah yang masalahnya telah berlarut-larut. Toh kami tetap disambut dengan upacara adat “huler wair” oleh kepala dusun, kami juga dipersilahkan warga dan para guru untuk melanjutkan kegiatan hari itu. Anak-anak dikumpulkan lagi, meskipun tidak 100% semua datang, namun syukurlah ada sekitar 80% hadir.

Game edukatif, hiburan serta canda tawa mencairkan suasana, dan membentuk keakraban. Volunteers Shoes For Flores telah menyiapkan beberapa game edukatif baru, seperti Story Telling Show dengan menggunakan karton bekas. 

“Sini dek, kubonceng…” Goyang Ojek!!

Kak Jelis, Kak Tari, dan Kak Bayos membawakan dongeng dengan menggunakan figur-figur yang dibikin sendiri memakai kardus bekas. Ceritanya apa hayo??

Usai mendongeng, satu-satu anak dites mengisahkan ulang apa yang telah mereka dengar.
Kalau yang ini pasti sudah tahu,kan? “Ada berapa langkah untuk cuci tangan???”

Yang jawabnya benar dapat hadiah

Yang salah jawab, hukumannya Goyang Dombret…

Sebelum anak-anak menerima bingkisan hadiah dari donator, dilakukan terlebih dahulu cek kesehatan, pemeriksaan gigi, dan pemberian multivitamin. Para guru menerima hadiah sepatu juga dan tas.

Pelaksanaan pengecekan darah oleh Kak Novi yang sehari-harinya dokter dan Kak Astry yang apoteker.

Kartu Golongan Darah ala SFF. Ini sudah divalidasi oleh Puskesmas Kecamatan loh…

“Deg-degan kuatir giginya dicabut bu dokter, ya??”

Membongkar barang-barang bawaan untuk dihadiahkan

Kak Elisabeth menyerahkan bingkisan sepatu untuk tiap guru.

Ibu guru memakaikan sepatu. J

Kak Astry menyerahkan kotak P3K untuk digunakan bila anak-anak luka atau sakit. Setiap kali kegiatan SFF selalu memberikan kotak P3K untuk sekolah.

Kak Jefry membongkar sepatu untuk adik-adik.

Koordinator logistik, Kak Imron, merapikan meja dan menyusun bingkisan untuk adik-adik

Memegang hadiah-hadiah mereka

Usai kegiatan, volunteers Shoes For Flores kembali ke Maumere. Air terjun yang berada tidak jauh dari kampung pun dikunjungi untuk piknik dan melepas penat. Segarrrrr!!!! Air terjun ini meskipun ukurannya kecil, namun trek menujuh kesini sangat teduh dengan rimbunan pepohonan yang tinggi menjulang. 

Kak Tari Tandjung yang paling antusias menceburkan diri

Basah-basahan yok

TERIMA KASIH atas dukungan semua sahabat SFF dan para Donatur.
Sampai Jumpah season berikutnya.

SFF Quote of the season: “Tidak ada aksi kebaikan, sekecil apapun, terbuang sia-sia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top