Photo & Story: SHOES FOR FLORES, Season 9 – SDK Kloangaur, Waigete – Sikka Regency

“Ada anjing gonggong beta e….Beta balas gonggong anjing e…..”
Petikan lagu dalam film ‘Cahaya Dari Timur: Beta Maluku’ mendadak mengundang tawa seisi ruangan. Di bawah temaram dua bohlam, mata para warga serta anak-anak Watudiran menghadap ke dinding kapel, menonton film berdurasi 2 jam yang kami tayangkan. 

Poster Promo Season 9 sebelum kegiatan digelar.

Bangunan sekolah 3 ruangan SDK Kloangaur dari bambu.

Serba sederhana tapi tidak mengurangi semangat bersekolah anak-anak

Tiga anak perempuan di kelas satu, dengan sandal ke sekolah

Masih malu-malu bahkan ketakutan ketika awal bertemu saat survey dilakukan oleh volunteers.

Setelah diajak ngobrol, sejenak bercerita, akhirnya mereka mulai beraksi…nakalnya muncul…LOL

Ruangan Kelas 3, tampak dari jendela tak berpenutup

Proses belajar mengajar.
Malam ini memang malam istimewa buat mereka. “Kami senang, kalian datang ke kampung kami. Penghiburan buat warga. Beginilah, listrik belum ada, signal hape juga belum terjangkau,” kata Maxentius Maximulianus, kepala desa yang menyambut relawan Shoes For Flores (SFF). Ia meminjamkan generator untuk menyuplai listrik malam itu.
Sebenarnya, kami sudah terbiasa dengan kondisi demikian. Pasalnya semua kegiatan SFF selalu dilaksanakan di kampung-kampung terpencil. Meskipun belum ada listrik dan ketiadaan signal, Watudiran malah termasuk ‘cukup maju’, karena telah menikmati aspal mulus yang baru disaput, sumber air pun tersedia. (Dibanding beberapa desa di pedalaman Flores yang kami datangi sebelumnya , aksesnya malah sungguh lebih sulit. 

Nonton film bersama merupakan satu dari agenda kegiatan SFF kali ini. Setelah melalui proses survey dan fund raising selama beberapa pekan, relawan akhirnya dapat mendatangi Watudiran, meski kemarin perjalanan sempat molor karena diterpa hujan, (ajaibnya, hujan berhenti saat kami masuk ke Watudiran hingga kegiatan berakhir. Sungguh, semesta mendukung!)

Bahu membahu (eh tangan mentangan, bukan?) barang-barang dipindahkan dari jalan ke Kapela.

Nonton semalam suntuk dijabanin. Terima Kasih generatornya stand by, Pak Kades!

Kegiatan berlanjut hari senin, dari pagi hingga siang. Volunteers menggelar permainan bernuansa edukatif di kebun sekolah yang tidak hanya menarik minat anak-anak tapi juga memantik antusiasme orang tua anak-anak untuk turut bergabung. Bayos Patriwalen, Mikaela Jelis, dan Obhy Obhy memimpin anak-anak di kebun sekolah. “Waktu survey mereka kurang aktif ketika diajak ngobrol, tapi sekarang anak-anaknya ternyata punya energi tinggi,” kata Jelis. Kebun sekolah yang ditanami pohon Jambu itu sebelumnya dikerubuni rerumputan dan ilalang liar, namun warga memangkasnya sebelum kami datang. “Supaya lega, kegiatan SFF lancar, karena lahan rata sulit di kampung ini. Sekaligus bila hujan turun nanti, kami akan tanami jagung,” kata Kepala sekolahnya, Hendicus Seda.
Kelas Inspirasi diisi dengan pengenalan profesi, kali ini oleh drg.Nur NurKartika EkaCandra Dewi, yang juga menciptakan permainan praktek dokter bersama anak-anak. Lucu dan mengundang tawa. 
Biasanya sih Kak drg Nur paling ogah rapi…tapi kali ini dia lagi pingin cantik dikit, maka dikenakanlah pakaian dokternya, dan mengisi Kelas Inspirasi dengan mengajak anak-anak berpraktik a la dokter gigi.

Guru dan orang tua murid pun tidak mau ketinggalan, turut terlibat dalam games seruh yang disiapkan kakak-kakak volunteers. Ayo, ada berapa langkah untuk cuci tangan???
Drg Risna Risna Yuanitta, setia melakukan pemeriksaan gigi. “Sekitar 4 anak yang giginya terpaksa kita cabut karena kondisinya buruk,” kata Risna yang datang khusus dari Larantuka bersama suami dan iparnya demi kegiatan SFF. Dia juga memberikan suplemen multivitamin ke semua anak usai pemeriksaan gigi.
Sedangkan Arnold Nurak, volunteer yang sehari-hari bekerja sebagai analis di sebuah laboratorium menggelar pemeriksaan golongan darah sekaligus membuatkan kartu golongan darah bagi tiap anak. “Sekarang, adik-adik bisa tahu golongan darah masing-masing,”katanya kepada anak-anak yang menunggu dalam kelas.
Usai pemeriksaan kesehatan, anak-anak lantas berlomba mewarnai dan menggambar. Volunteers telah menyiapkan perlengkapan lomba sejak jauh hari.
Derviana dengan sukacita memamerkan Kartu Golongan Darah yang baru dimilikinya. “Saya darah O, kaka”

Tiap anak diambil darahnya. Ya, Kaka Arnold memang manusia setengah drakula, suka darah, diks…

Peri gigi langganan SHOES FOR FLORES, siapa lagi kalau bukan kak drg. Risna. “Yang berlubang, kaka cabut ya?” katanya diiringi senyum…eh, senyum bahagia, maksudnya, kak? Jahattttt…..

Sementara teman-teman lainnya menjalani pemeriksaan gigi dan cek golongan darah, anak-anak kelas 1 dan 2 yang belum dapat giliran, mengisi waktu dengan mengikuti Lomba Mewarnai. Hadiahnya, paket Crayon yang didonasikan donatur. 
Kak Imron (membelakangi kamera) adalah koordinator Logistik. Dialah yang bertanggung jawab terhadap barang-barang, baik jumlah dan keadaaan. Tugas negara, Bos!

Paket hadiah untuk anak-anak SDK Kloangaur: Sepasang seragam Nasional, Sepasang sepatu + kaus kaki, alat tulis, Tas, Tempat Bekal Makanan, dan Snack.
Selain pemutaran film, permainan edukatif, Kelas Inspirasi, Cek gigi, pemeriksaan golongan darah, dan lomba-lomba itu, seperti biasa volunteers SFF juga membawa hadiah-hadiah lain yang telah menjadi trademark kegiatan. 

Setiap anak Watudiran menerima sepatu + kaos kaki, masing-masing mendapatkan tas, semua dibagikan seragam, dan set alat-alat tulis (buku, pensil, penggaris, penghapus, peruncing) bagi setiap anak. 

“Kalian sejak kemarin hingga hari ini dapat banyak hadiah dari kakak-kakak. Ingat, dirawat baik-baik, dan belajarlah yang rajin,” pesan Kepala desa di akhir acara.
Kak Tari, volunteer + koordinator konsumsi + sponsor hadiah tas bagi para guru honorer. Pink as your heart, kak..xoxo

Bapak Kepseknya bercanda “Saya juga mau dong hadiahnya”

Closing photo. Habis ini pulang masih jauh, gaes.

Kami berterima kasih kepada para donatur, yang kali ini 100% adalah individual donatur (maksudnya para penyumbang datang dari orang per orang). Ada yang mengirimkan barang, ada yang membantu dengan dana. In our humble opinion, kami hanyalah perpanjangan tangan dari kalian.

Sejenak berisitirahat dalam perjalanan pulang, setelah menemukan jalan raya.
Sampai Jumpah di season berikut.
“Shoes For Flores” Quotes of the Season:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top